Home / Berita Umum / Warga Gunungkidul Berburu Protein Ungkrung di Musim Penghujan

Warga Gunungkidul Berburu Protein Ungkrung di Musim Penghujan

Warga Gunungkidul Berburu Protein Ungkrung di Musim Penghujan – Musim hujan berubah menjadi barokah sendiri untuk penduduk Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul. Ada penambahan protein gratis yg disajikan alam. Dengan catatan, tak punyai alergi privat atau mungkin tidak risih menyaksikannya.

Protein gratis itu merupakan ungkrung atau pupa ulat pohon jati. Orang Gunungkidul mengatakannya ungkrung. Di daerah beda juga ada yg mengatakannya ungker atau enthung.

Gak cuma dikonsumsi, kehadiran ungkrung nyata-nyatanya ikut mengungkit perekonomian penduduk. Bukan tiada argumen, hal semacam itu disebabkan harga jual ungkrung yg capai Rp 110 ribu per kilonya.

Melalui jalan di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, mebdapati panorama unik. Banyak penduduk yg bergabung di lebih kurang kebun yg ditumbuhi pohon jati. Mereka kelihatan repot membalik daun pohon jati yg jatuh ke tanah.

Ada beberapa ribu atau bahkan juga juta-an ungkrung. Ungkrung-ungkrung itu awalnya menggunakan daun-daun jati yg tumbuh sejalan turunnya hujan. Dalam proses metamorfosanya, ungkrung lantas bakal turun ke tanah buat ‘bertapa’ berubah menjadi pupa.

Ketika tersebut penduduk bakal mengambilinya. Dikhususkan yg diambil merupakan ungkrung atau yg udah berubah menjadi pupa, tetapi kadangkala tetap bercampur ulatnya. Pastinya tetap harus ada ungkrung yg lewatkan serta selamat, sesudah itu bisa jadi kupu-kupu yg bakal bertelur di daun jati seterusnya.

” Ini sesuai senggang waktu saja. Kerjaan di ladang udah usai, saya mencari ungkrung di sini. Tiap-tiap tahun pastinya mencari ungkrung, lantaran keluarnya 1 tahun sekali, ” kata Tukem, Rabu (19/12/2018) sore.

Menurut Tukem, ulat jati berwarna hitam itu dia mengambil lantaran apabila didiamkan bakal berkembang berubah menjadi ungkrung. Tidak hanya itu, seandainya udah sejumlah banyak, ungkrung-ungkrung itu bakal diproses jadikan lauk makan yg kaya protein.

” Bila saya ungkrungnya dikonsumsi sendiri, gak dipasarkan. Kebanyakan dibacem dahulu senantiasa digoreng, terasa gurih. Namun bila tak sesuai (makan ungkrung) dapat bidhuren (alergi kulit) , ” ujarnya.

Tidak sama dengan Tukem, Maryati (30) , Penduduk Dusun Sukuran, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul menyatakan mencari ungkrung buat isikan waktu kosong. Tidak cuman isikan waktu kosong, ungkrung yg diperolehnya kadangkala dia jual kembali.

” Ya bila dapatnya banyak saya jual, kan harga nya buat satu kilo itu Rp 110 hingga Rp 120 ribu, itu mentah lho. Jadi dapat buat tambah-tambah pemasukan pun, namun ya bila bisa banyak, ” pungkasnya.

Ditambahkan Maryati, seandainya ungkrung yg diperolehnya sejumlah dikit, dia bakal mengolahnya buat dikonsumsi anggota keluarganya yg sejumlah besar tertarik pada olahan ungkrung.

About admin