Tidak Banyak Pun Keamanan Siber Sangat Penting

Jakarta : Masih tetap ingat dengan ransomware WannaCry yang menyerang pada bln. Mei th. lantas? Malware yang mengunci data-data korban serta memohon korban untuk membayar supaya datanya dapat kembali dipulihkan itu menyerang warga lebih dari 100 negara. Ransomware itu membidik semuanya pihak, dari mulai perorangan, perusahaan, sampai pemerintah.

Indonesia adalah negara ke-2 dengan korban WannaCry paling banyak. Saat itu, Menteri Komunikasi serta Informatika, Rudiantara mengatakan serangan WannaCry jadi ” wake up call ” juga akan perlunya keamanan siber.

Memanglah, mengemukakan perlunya keamanan siber pada perusahaan serta invidual adalah satu diantara tantangan yang umum dihadapi oleh perusahaan yang beroperasi di sektor keamanan siber. Paling tidak, demikianlah yang disebutkan oleh Country Sales Director, Tren Micro, Laksana Budiwiyono.

” Satu diantara tantangan yang kita hadapi itu saat pelanggan terasa tak ada problem, terasa jalan keluar yang dipakai telah cukup, ” kata pria yang akrab dengan panggilan Laks ini. Dia menerangkan, saat kondisi normal serta tak ada serangan, jadi satu perusahaan umumnya juga akan terasa jalan keluar keamanan yang mereka pakai telah cukup. Untungnya, dia mengatakan, sekarang ini, kesadaran perusahaan juga akan keamanan siber cukup tinggi.

” Saat ini, masa digital kan makin popular, jangan pernah keamanan ketinggal, ” kata Laks waktu didapati di kantor Tren Micro. ” Saat kita buat perusahaan jadi lebih digital, janganlah lupa keamanan. “

Mengutip Gartner, dia menyebutkan kalau 60 % perusahaan yang berupaya lakukan digitalisasi pada 2020 tidak siap dari sisi keamanan. Menurut Laks, hal semacam ini malah dapat membahayakan perusahaan.

Laks menerangkan, untuk meyakinkan perusahaan tetaplah aman, bukan sekedar jalan keluar keamanan yang dipakai yang butuh di perhatikan. ” Ada banyak hal yang perlu kita saksikan. Pada intinya, keamanan itu terbagi dalam tiga pilar, yakni tehnologi, product serta orang, ” tuturnya.

Dia mengatakan, tidak perduli secanggih apa system keamanan satu perusahaan, bila beberapa karyawannya masih tetap buka semuanya file yang mereka terima, mengklik semuanya tautan yang mereka peroleh, jadi resiko system dibobol juga akan tetaplah ada. ” SOP (Standar Operating Procedure) juga butuh, ” tuturnya.

Oleh karena itu, Tren Micro lakukan edukasi dengan berkala. ” Beberapa karyawan harus ikuti tes, diberi masalah, disuruh untuk menjawab. Bila tidak lulus, jadi mesti turut kursus, ” kata Laks. ” Karna bentuk penipuan makin lama makin mutakhir. “

Umumnya, ungkap Laks, perusahaan besar telah mengerti perlunya edukasi berkaitan keamanan siber serta mempunyai alat untuk melatih beberapa karyawannya. Beda perihal dengan UKM (Usaha Kecil serta Menengah)