Home / Berita Umum / Data Korban Yang Tewas Dalam Demo 22 Mei 2019

Data Korban Yang Tewas Dalam Demo 22 Mei 2019

Data Korban Yang Tewas Dalam Demo 22 Mei 2019 – Delapan orang wafat dalam keonaran di beberapa titik di Jakarta pada 21-22 Mei saat kemarin. Direktur Service Medis RS Budi Kemuliaan Muhammad Rifki, umpamanya, menjelaskan dari 32 korban ketegangan di Tanah Abang yg mereka tangani, tiga salah satunya ” dianggap terserang peluru tajam ; satu orang wafat ” . Korban wafat Farhan Syafero (30) . Dialah korban wafat yg pertama teridentifikasi pada tindakan 22 Mei pagi hari. Muhammad Baharuddin, salah seseorang dokter yg bekerja di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, mengkonfirmasi Farhan wafat gara-gara cedera tembak pada sisi dekat leher serta tembus sampai ke punggung. Sesaat Humas RSUD Tarakan Reggy Sobari menjelaskan Adam Nooryan (17) serta Widianto Rizky Ramadhan (19) wafat lantaran peluru. Adam tertembak pada sisi punggung tembus sampai dada, Widianto pada sisi leher. Polisi menjelaskan hal mirip. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo bahkan juga lebih detail : satu antara delapan korban itu (tanpa ada mengatakan nama) wafat lantaran terserang peluru tajam. ” Yang lain masihlah dalam proses autopsi, ” tuturnya. Harus Diselesaikan Liani, tante Widianto Rizky Ramadhan, menuduh polisilah yg harus memikul tanggung jawab atas kematian keponakannya. ” Mana peluru boongan, peluru karet, itu keponakan saya terkena tembak di leher, wafat, sama polisi, ” papar Liani di RSUD Tarakan masa ingin menjemput jenazah keponakannya itu, Rabu (22/5/2019) . ” Jika seperti berikut, ke mana saya mesti melapor, Pak Presiden? ” imbuhnya. Selama ini memang belumlah ada pengakuan sah bab siapa yg harus memikul tanggung jawab. Berkenaan gugatan kalau pelakunya yaitu polisi, Menko Polhukam Wiranto menyanggah. ” Tidak bisa aparat membunuh rakyat, ” tuturnya 22 Mei saat kemarin. Lihat juga : Kapolri Terima Laporan 6 Orang Wafat dalam Tindakan 22 Mei 2019 Hal mirip dijelaskan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia bahkan juga memberikan indikasi jika yg kerjakan itu yaitu faksi di luar TNI-Polri. 22 Mei lalu ia menyebutkan polisi tangkap enam orang berkenaan kepemilikan senjata api. Senjata api itu akan diperlukan buat mengarah massa tindakan supaya mengakibatkan kemarahan massa. ” Oleh karena itu saya mohon, kita mohon penduduk buat masih tenang, tak langsung apriori, janganlah langsung menuduh aparat pemerintah, aparat keamanan yg kerjakan beberapa tindakan itu, ” kata Tito. Walaupun menyanggah menembak massa, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi dapat meyakinkan jika yg wafat itu yaitu beberapa pengacau. ” Bukan massa yg jualan, atau yg tengah ibadah, ” tuturnya. Janganlah Seperti Masalah 98 Beberapa faksi terus mendorong pemerintah menyelesaikan masalah ini. Pemerintah harus memeriksa serta memberitakan ke publik siapa aktor penembakan. Koordinator Kontras Yati Adriyani menjelaskan kalau tak kerjakan itu, karena itu keyakinan penduduk pada pemerintah dapat turun. Seperti beberapa kasus pelanggaran HAM masa dulu, masalah ini pun kemungkinan jadi beban pemerintah kalau tak secepatnya dituntaskan. Fakta lain mengapa masalah ini harus selekasnya diselesaikan yaitu peluang itu akan terulang di saat depan. Pelaku–siapa lantas itu–merasa aman lantaran mencabut nyawa orang nyatanya gak mendapatkan hukuman. ” Pola-pola mirip akan mungkin berlangsung di saat depan, ” tuturnya pada reporter Tirto, Kamis (23/5/2019) . Lihat juga : Rumah Duka Korban Wafat Keonaran Tanah Abang Ramai Pelayat Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menyatakan utamanya pengungkapan masalah ini. Ia memperingatkan pemerintah kalau ada banyak masalah pelanggaran HAM masa dulu yg belum tersingkap sampai saat ini, serta masalah ini jangan lantas meningkatkan panjang daftar tersebut–meski Komnas HAM sendiri masih memeriksa apa masalah ini termasuk juga pelanggaran HAM ataukah tidak. ” Jangan lantas terulang [tidak terungkap], ” kata Beka pada reporter Tirto. Ketua Bagian Advokasi YLBHI Muhammad Isnur menjelaskan salah satunya hal yg dapat dijalankan yaitu mengautopsi korban. Isnur terus memberi anjuran keluarga korban sepakat autopsi walaupun beberapa salah satunya udah menyebutkan malas kerjakan itu. ” Untuk penyidikan. Ini penting memang. Apa ini peluru dari polisi, tentara, atau diluar itu. Ini penting disibak, ” tuturnya.

About admin